SAMARINDA, KTV – SMAN 10 Samarinda menorehkan prestasi membanggakan dengan terpilih sebagai salah satu dari 12 sekolah di Indonesia yang masuk dalam program bergengsi Garuda Transformasi. Program ini dirancang khusus untuk membangun ekosistem sesuai standar pendidikan dunia yang digagas oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek).
Kepala SMAN 10 Samarinda, Ni Made Adnyani mengungkapkan bahwa selama ini upaya siswa untuk kuliah ke luar negeri masih bersifat parsial dan sangat bergantung pada inisiatif serta kemampuan finansial orang tua masing-masing. Kini, melalui program Sekolah Garuda Transformasi, puluhan siswa SMAN 10 berhasil mengantongi Letter of Acceptance (LoA) dari berbagai perguruan tinggi ternama di luar negeri.
“Dulu kalau anak mau ke luar negeri itu karena permintaan orang tua, sekolah hanya memfasilitasi administrasi. Tapi sekarang, melalui Garuda Transformasi, semuanya tersistem karena didampingi langsung oleh universitas mitra yang ditetapkan oleh Dikti,” ujar Ni Made dalam sesi wawancara bersama Diskominfo Kaltim, Senin (30/3/2026).
Terpilihnya SMAN 10 Samarinda tidak lepas dari posisi strategis Kalimantan Timur sebagai lokasi Ibu Kota Nusantara (IKN). Ni Made menyebutkan bahwa status sebagai sekolah di daerah penyangga IKN menjadi nilai tawar (bargaining position) yang kuat, selain adanya rekomendasi dari Dinas Pendidikan setempat.
“Ada banyak sekolah yang mungkin lebih hebat dari SMAN 10, tapi kita terpilih karena beberapa faktor, termasuk posisi kita di IKN dan dukungan ekosistem yang sedang dibangun,” jelasnya.
Keberhasilan program ini mulai terlihat dari drastisnya peningkatan jumlah siswa yang diterima di kampus luar negeri. Jika tahun lalu hanya ada sekitar 4 siswa yang berangkat, tahun ini angka tersebut melonjak hingga 700 persen.
Ni Made menilai, pola pikir siswa kini telah berubah. Kuliah di luar negeri bukan lagi sekadar mimpi bagi segelintir orang, melainkan pilihan yang realistis bagi lulusan SMA saat ini.
“Dulu mungkin orang berpikir S1 luar negeri itu sulit atau lebih baik tunggu S2 saja. Sekarang, itu pilihan yang sangat realistis. Daya ungkit ekosistem ini benar-benar terasa, bukan lagi kerja orang per orang, tapi sistem yang bergerak,” tambahnya.
Dalam menjalankan program ini, SMAN 10 Samarinda didampingi oleh Universitas Padjadjaran (Unpad). Program Garuda Transformasi direncanakan berjalan selama empat tahun dengan target total 80 sekolah di seluruh Indonesia. Untuk angkatan pertama, terdapat 12 sekolah yang menjadi pionir, termasuk sekolah dari wilayah Indonesia Timur seperti dari Papua dan Ambon.
“Kami berharap pada tahun ketiga dan keempat, ekosistem ini sudah mandiri. Kami sedang membuka ‘jalan tol’ bagi anak-anak. Dengan dukungan dari tokoh-tokoh seperti Prof. Stella Christie (Wamendikbudristek), posisi tawar siswa kita di mata universitas dunia kini semakin meningkat,” pungkas Ni Made optimis.
Dengan adanya program ini, SMAN 10 Samarinda optimistis bahwa peluang siswa dalam seleksi nasional maupun internasional akan semakin terbuka lebar, sekaligus meningkatkan kualitas daya saing sumber daya manusia di Kalimantan Timur.(**)





